Yuk, Ketahui Sejarah dari Wayang Tertua di Indonesia, Wayang Beber

Sudah nggak diragukan lagi bahwa Indonesia memiliki keanekaragaman seni dan budaya yang kaya. Kesenian seperti gamelan, angklung, ketoprak, batik, dan wayang memang menambah keistimewaan Indonesia.

Salah satu kesenian yang telah tercatat dalam UNESCO sebagai warisan dunia adalah wayang. Sebelum adanya wayang kulit, Indonesia telah memiliki jenis wayang yang unik atau memiliki ciri khas tersendiri, yaitu wayang beber.

Ingin tahu lebih jauh mengenai wayang tertua yang ada di Indonesia ini? Sebaiknya Sahabat mencermati pembahasannya berikut ini!

Seperti Apa Sejarahnya?

Asal-usul wayang beber dimulai pada tahun 1223 M, yaitu sejak zaman Kerajaan Jenggala. Bentuk awalnya masih belum sempurna, yaitu menggunakan daun lontar. Saat Raja Prabu Suryahamiluhur menjadi Raja Jenggala, dia membuat perkembangan dengan menggoreskan gambar wayang pada kertas yang terbuat dari kulit kayu. Inilah yang menjadi awal dari pemakaian kertas untuk wayang tertua ini.

Kertas yang digunakan berwarna agak kekuningan dan gambarnya masih berwarna hitam dan putih dengan tambahan ornamen-ornamen. Pada tahun 1316 di masa Majapahit, Jaka Susuruh membuat tongkat kayu panjang di setiap ujung gulungan kertas wayang untuk menggulung atau menampilkan cerita selanjutnya. Saat itulah nama wayang ini muncul.

https://waybemetro.files.wordpress.com/2012/04/wb-pacitan.jpg

Kemudian, pada masa pemerintahan Raja Brawijaya V, dia memerintahkan anak-anaknya untuk menciptakan bentuk yang baru terhadap wayang ini. Wayang mulai diberi warna sehingga pelukisannya dapat membedakan dengan jelas antara raja dengan para punggawa. Raja Brawijaya juga memerintahkan untuk membuat tiga set cerita yang berbeda, yaitu “Panji di Jenggala”, “Jaka Karebet di Majapahit”, dan “Damarwulan”.

Pada tahun 1518 M, yaitu masa Kerajaan Demak, wayang ini dimodifikasi untuk menyesuaikan dengan ajaran Islam karena karakter wayang masih digambarkan dengan bentuk asli manusia. Para Wali mendistorsi bentuk wajah dan tubuh karakter wayang. Pembaruan bentuk karakter dari realistis menjadi simbolis inilah yang menjadi model pertama dari bentuk pewayangan masa kini.

Tentang Wayang Tertua di Indonesia

http://www.medanbisnisdaily.com/imagesfile/201306/20130627092530_208.gif

Sahabat perlu tahu, nih, menurut bahasa Jawa, kata beber berasal dari kata ambeber atau njlentrehke yang berarti dibentangkan atau membentangkan. Wayang ini memang sangat khas karena saat pertunjukan, sang dalang akan membentangkan gulungan kain atau kertas berilustrasikan lakon cerita pewayangan. Kain atau kertas biasanya memiliki lebar 50 cm hingga 70 cm dengan panjang 360 cm sampai 400 cm.

Dalam satu gulungan, biasanya akan ada empat adegan. Untuk mementaskan 1 lakon cerita, dibutuhkan empat sampai lima gulungan. Pertunjukan akan diiringi musik gamelan yang terdiri dari rebab, kendang, gong, kenong, kempul raras lima, dan kethuk raras jangga. Untuk versi kontemporer akan diiringi dengan keyboard.

Pada masa Majapahit, wayang beber digunakan sebagai sarana untuk upacara menolak bala atau Ruwatan. Kemudian, berkembang menjadi pertunjukan di luar ritual yang masih menyampaikan tentang kebenaran nilai tradisional. Pada masa berjayanya kerajaan Islam, wayang digunakan sebagai media dakwah untuk memperkenalkan ajaran Islam kepada masyarakat.

Pementasan wayang secara tradisi harus dilakukan oleh dalang pria yang merupakan keturunan dari dalang-dalang sebelumnya. Jika sang dalang nggak memiliki anak laki-laki maka bisa diwariskan pada kemenakan laki-lakinya.

Kisah umumnya menceritakan tentang kepahlawanan dan cinta antara Panji Asmarabangun dengan Dewi Sekartaji. Tradisi ini cukup menyulitkan sehingga Dani Iswardana menggagas wayang kontemporer yang menceritakan tentang kritik sosial di masa sekarang.

https://d28j15pnfa5oxx.cloudfront.net/opini3_question_image/attachment/sXFflUPGC3ZYiLKnyDB1

 

Nah, Sahabat, sebagai bagian dari bangsa, melestarikan kekayaan budaya Indonesia adalah hal yang wajib dilakukan. Jangan sampai wayang beber yang sudah langka ini malah berakhir punah. Kini sudah ada versi kontemporer yang telah mengalami perubahan agar lebih mudah dinikmati. Sangat menarik, bukan? Sahabat bisa menyaksikan pertunjukannya di komunitas wayang yang ada di Jakarta dan Solo.