Ungkapan Rasa Syukur Atas Lahirnya Keturunan Lewat Upacara Turun Mandi

Indonesia dikenal sebagai negara dengan jumlah muslim terbesar di dunia. Besarnya angka tersebut meliputi penduduk di berbagai pelosok daerah di nusantara yang terdiri dari banyak ragam suku dan ras yang berbeda. Salah satu suku bangsa yang dikenal memiliki pengaruh ajaran Islam sangat kuat adalah masyarakat Minangkabau.

Masyarakat Minangkabau, atau yang lebih populer dengan sebutan Orang Minang, merupakan orang-orang Melayu yang mendiami kawasan di Sumatera Barat, Riau, Bengkulu, Jambi, Sumatera Utara Aceh, hingga Malaysia. Seiring dengan proses akulturasi budaya melalui pernikahan, Sahabat sekarang juga bisa menjumpai orang asli Minang di berbagai daerah di Indonesia.

Upacara Turun Mandi

Tahukah Sahabat, bahwa masyarakat asli Minang memiliki sebuah tradisi untuk memandikan bayi yang baru lahir di sungai? Tradisi yang dikenal dengan nama Upacara Turun Mandi ini merupakan adat warisan nenek moyang yang sudah dilakukan dari generasi ke generasi

Upacara ini merupakan sebuah bentuk perayaan atas kelahiran seorang anak sekaligus bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. Selain itu, menurut orang Minang, prosesi ini sejalan dengan sunnah Nabi Muhammad SAW.

Tidak Sekadar Dimandikan

sumber : www.sumber.com

Meskipun dinamakan Upacara Turun Mandi, prosesi adat yang harus dilakukan nggak hanya sekadar memandikan bayi di sungai lho. Ada sejumlah syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi pihak keluarga agar adat ini dapat dijalankan dengan sempurna.

Pertama, keluarga harus menentukan tanggal pelaksanaan upacara. Upacara untuk bayi laki-laki dilakukan di tanggal ganjil, sementara bayi perempuan di tanggal genap. Adapun orang yang membawa bayi dari rumah ke sungai adalah orang yang membantu proses persalinan si ibu.

Kedua, keluarga wajib memberikan menyediakan obor dari kain-kain robek bernama sigi kain burulak. Obor ini nantinya akan dinyalakan dan dibawa saat mengarak sang jabang bayi dari rumah ke sungai.

Ketiga, pihak keluarga wajib memberikan batiah bareh badulang, yaitu beras yang telah digoreng kepada anak-anak yang ikut mengarak rombongan jabang bayi.

Keempat, keluarga harus menyiapkan berbagai perlengkapan Upacara Turun Mandi yang terdiri dari tampang karambia tumbuah (bibit kelapa), tangguak (tangguk), palo nasi (bagian dari nasi yang terletak paling atas), arang, dan darah ayam.

Rangkaian Prosesi Adat Upacara Turun Mandi

Sebelum prosesi dimulai, keluarga akan melumuri palo nasi dengan arang dan darah ayam. Hal ini dipercaya dapat menangkal roh-roh jahat yang dapat mengganggu si jabang bayi. Sesaji tersebut kemudian dibagi menjadi 3 bagian, dua bagian diletakkan di sepanjang jalan menuju sungai sementara satu akan dibawa ke lokasi upacara.

Setelah bayi diarak dari rumah dan dimandikan di sungai, tampang karambia tumbuah alias bibit kelapa akan dihanyutkan dari hulu, lalu sang ibu akan mengambil bibit tersebut saat sudah mendekati si bayi. Bibit ini nantinya akan ditanam di sekitar rumah si jabang bayi.

Bibit kelapa menjadi perlambang dari bekal hidup si jabang bayi. Diharapkan anak tersebut memperoleh jalan hidup yang bahagia dan membawa manfaat.

Kemudian, keluarga akan mengambil 7 buah batu dari sungai menggunakan tangguak. Batu-batu ini nantinya akan dipakai menyumbat lubang bekas penanaman bibit kelapa tadi.

Batu sungai ini konon merupakan simbol dari bekal rezeki si bayi, diharapkan bayi ini nggak akan sulit mendapatkan rezeki yang berkah dan berlimpah.

 

Terakhir, keluarga akan mengajak orang-orang yang mengikuti Upacara Turun Mandi untuk makan dan bercengkrama di rumah. Jamuan tersebut merupakan penutup dari rangkaian prosesi adat ini. Unik bukan Sahabat?


Keterangan
Lokasi : padang pariaman, sumatera barat
Jelajah SUMATERA BARAT

06-08-2017 9:49 AM
Karih

06-08-2017 9:37 AM
Sumbara Rent Car

01-02-2018 4:27 PM
Tour de Singkarak 2017