Memberi Penghormatan kepada Leluhur Lewat Tradisi Ma’Nene di Toraja

 

Sahabat, banyaknya suku bangsa yang tersebar di antero nusantara membuat negeri ini nggak pernah kehabisan adat dan ritual unik yang menarik untuk dikaji. Nah, kalau kamu senang mempelajari keragaman budaya yang ada di tanah air, tradisi Ma’Nene dari Toraja nggak boleh kamu lewatkan

Bagi masyarakat Toraja, tradisi Ma’Nene adalah ritual sakral yang dilaksanakan sebagai sebuah bentuk penghormatan kepada leluhur. Ritual tersebut mungkin terlihat sedikit “mengerikan” di mata wisatawan karena menggunakan mayat asli yang telah berusia puluhan bahkan ratusan tahun. Eits… kamu langsung bergidik ketakutan ya, bagaimanapun tradisi ini memiliki makna yang mendalam, Sahabat.

Untuk memahami tradisi unik Ma’Nene di Toraja, kamu perlu mengetahui beberapa hal di bawah ini:

  1. Mengganti Pakaian Leluhur

 

Tradisi Ma’Nene pada dasarnya adalah ritual untuk membersihkan jasad leluhur yang telah meninggal dunia. Dalam ritual ini, keluarga akan mengeluarkan jasad leluhurnya dari dalam Patane (kuburan khas Toraja), kemudian membersihkannya sekaligus mengganti baju atau kain yang ada pada tubuh jasad dengan yang baru.

Setelah proses pembersihan dan penggantian baju selesai, jasad akan dibungkus lalu dikebumikan kembali di Patane. Dari sini, pihak keluarga kemudian berkumpul di Tongkonan, rumah adat masyarakat Toraja, untuk berdoa bersama sekaligus menutup prosesi ritual Ma’Nene.

Tradisi ini telah dilakukan secara turun-temurun selama ratusan tahun. Seluruh prosesi Ma’Nene harus dilakukan oleh pihak keluarga dan nggak boleh diwakilkan oleh orang  lain.

  1. Dilaksanakan secara Beramai-ramai

Sumber : goodnewsfromindonesia.id

 

Pelaksanaan tradisi Ma’Nene umumnya dilakukan secara beramai-ramai oleh beberapa kepala keluarga atau bahkan satu desa dalam satu waktu. Karena itu, biasanya prosesi adat yang dilakukan memakan waktu cukup lama.

Tradisi unik ini biasanya dilakukan di akhir bulan Agustus, yaitu tepat setelah masa panen berlalu. Sebelum acara dimulai, pihak keluarga akan memanggil sanak saudara dari jauh serta meminta para anggota keluarga yang merantau untuk pulang.

Semakin banyak keluarga yang hadir, maka akan semakin baik. Karenanya jangan heran jika selama upacara berlangsung, desa yang menyelenggarakannya akan tampak sangat ramai.

  1. Memiliki Makna yang Dalam

 

Terlepas dari keunikan ritual ini, tradisi Ma’Nene memiliki makna yang dalam serta pelajaran yang bersifat universal, lho. Dengan membersihkan jasad nenek moyang, kamu akan mengerti arti penghormatan terhadap leluhur serta menghargai makna dalamnya hubungan keluarga yang bahkan nggak akan terputus setelah kematian datang.

Keluarga jauh yang berdatangan untuk mengikuti ritual ini pun menggambarkan bahwa jalinan kekerabatan antar keluarga tidak dapat dipisahkan oleh jarak. Apabila diperlukan, kamu harus selalu mengutamakan kepentingan keluarga terlebih dahulu. Persis seperti penggalan lagu yang dinyanyikan oleh Novia Kolopaking, sih, bahwa “harta yang paling berharga adalah keluarga”.

Adapun tradisi Ma’Nene juga dilakukan untuk mengenalkan anggota keluarga yang masih muda dengan para leluhur. Hal ini merupakan pelajaran bahwa mereka tidak boleh melupakan jasa-jasa orang terdahulu terhadap kehidupan mereka saat ini.

 

Itulah beberapa hal yang perlu kamu tahu untuk memahami tradisi Ma’Nene di Toraja. Meski saat ini nggak semua desa di Toraja masih menyelenggarakan ritual tersebut, penyelenggaraan Ma’Nene tetap dapat kamu temukan di beberapa desa seperti Desa Pangala dan Baruppu.

Sebenarnya nggak ada syarat khusus bagi wisatawan untuk dapat menyaksikan ritual ini. Namun, kamu tentu memerlukan izin dari pihak keluarga yang hendak menyelenggarakan ritual tersebut.

Terakhir, penting untuk dipahami bahwa tradisi ini merupakan acara sakral yang bermakna besar bagi masyarakat Toraja. Oleh karena itu kamu wajib menjaga sikap dan tata krama saat prosesi adat berlangsung.

Yuk, bagikan artikel ini pada teman-teman di media sosialmu!