Tradisi Bakar Batu, Tradisi Tua yang Unik dari Papua

Pernahkah Sahabat mendengar tentang tradisi bakar batu? Ritual adat ini merupakan tradisi suku Dani di Wamena, Papua. Dalam bahasa Lani, bakar batu disebut lago lakwi yang memiliki arti membakar segala jenis makanan dengan menggunakan batu.

Di Wamena, bakar batu lebih dikenal dengan sebutan kit oba isago, sedangkan di Paniai disebut dengan mogo gapil. Sementara di masyarakat umum, bakar batu lebih dikenal dengan istilah barapen.

Asal Mula Bakar Batu

Tradisi unik ini sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu. Bermula dari pasangan suami istri yang merasa bingung ketika hendak mengolah hasil kebun. Hal tersebut terjadi lantaran panci yang biasa digunakan tidak ada.

Setelah berpikir panjang, tercetuslah ide untuk memasak menggunakan batu. Tak disangka hasil masakan dengan metode tersebut jauh lebih lezat. Makanan yang dimasak pun semakin bervariasi, tidak hanya umbi-umbian saja, tetapi juga daging-dagingan.

Tata Cara Pelaksanaan Bakar Batu

Sumber: Jakartapost

 

Serupa dengan tradisi adat lainnya, bakar batu pun memiliki sejumlah tahap pelaksanaan, di antaranya:

· Persiapan

Proses persiapan dimulai sejak pagi buta. Kepala suku yang mengenakan pakaian adat Papua berkeliling untuk mengundang warganya secara langsung.

Menjelang siang, perburuan pun dilaksanakan. Konon, jika panah berhasil melumpuhkan hewan buruan, maka acara akan berlangsung lancar. Sebaliknya, jika hewan yang dipanah masih hidup berarti acara akan mengalami kendala.

Saat penyerahan hewan buruan berlangsung, sebagian warga akan menari dan sisanya menata batu. Batu yang digunakan tak boleh sembarangan, teksturnya harus keras agar tidak mudah hancur.

Penataan batu dilakukan sesuai dengan ukuran, batu besar diletakkan paling bawah. Urutannya adalah batu kemudian tumpukan kayu. Urutan tersebut dilakukan berulang hingga batu habis. Pembakaran batu menghabiskan waktu selama dua hingga empat jam.

· Memasak

Tahap kedua tradisi bakar batu ini dilakukan setelah kayu dan batu dipanaskan. Sebelum memasak, warga lebih dulu menggali tanah kira-kira sepanjang empat meter dengan kedalaman lima puluh sentimeter.

Lubang tersebut  diisi dengan batu panas dan apando (daun pisang dengan penjepit kayu khusus) yang berfungsi sebagai wadah sayur mayur dan daging.

· Makan Bersama

Setelah proses memasak selesai, makanan pun siap dihidangkan. Lazimnya, kepala suku akan lebih dulu menikmati hidangan, baru kemudian para warga. Jika makanan telah habis, warga biasanya menggelar acara goyang dengan iringan lagu daerah berjudul Weya Rabo dan Besek.

Makna Tradisi Barapen

Sumber: Wikipedia

Tak sedikit yang mengira bahwa tradisi ini hanyalah acara biasa, padahal di baliknya terdapat makna mendalam, yakni sebagai ungkapan syukur pada Tuhan dan simbol solidaritas yang kuat.

Ritual ini tidak hanya digelar untuk menyambut kelahiran, pernikahan, dan penghormatan saat acara kematian saja, tetapi juga dilaksanakan saat menerima kunjungan pejabat penting peresmian gedung, dan merayakan HUT Republik Indonesia.

 

Itulah sederet informasi mengenai tradisi bakar batu dari Papua. Selain unik, ritual ini juga menggambarkan betapa pentingnya sebuah kebersamaan. Indah sekali ya, Sahabat?


Keterangan
Lokasi : paniai, papua
Jelajah PAPUA

16-08-2017 6:25 AM
Bukit Mc Arthur

16-08-2017 6:14 AM
Pantai Amai

16-08-2017 6:23 AM
Aunu Senebre

16-08-2017 6:39 AM
Kopi Lampung