Tau Tau, Tradisi Pemakaman Khas Tana Toraja yang Mulai Terlupakan

Sahabat, ada yang pernah mendengar mengenai Tau Tau? Mungkin sebagian besar anak millennial menggelengkan kepala ketika ditanyakan tentang tradisi khas Tana Toraja ini. Yuk, simak apa sih sebenarnya Tau Tau itu dan mengapa tradisi ini begitu istimewa.

Mengenal Tradisi Tau Tau

Sumber : nitadisini.wordpress

 

Tau dalam bahasa Toraja berarti orang, Tau Tau secara harfiah berarti orang-orangan. Mereka yang meninggal dibuat replikanya dalam wujud orang-orangan atau patung, dan pembuatannya harus dilakukan langsung di dekat jenazah. Seram juga ya, Sahabat.

Ketika mengunjungi Toraja, Sahabat bisa melihat Tau Tau di pintu-pintu makam, pada tebing batu. Pintu di sini maksudnya lubang tempat penyimpanan jenazah. Satu lubang bisa diisi beberapa jenazah, dari keturunan yang sama, dan biasanya adalah para bangsawan Toraja.

Tau Tau menjadi bagian penting dari upacara Rambu Solo’, yang terdiri dari upacara kematian dan pemakaman. Ada filosofi terkandung pada upacara tersebut, lho, Sahabat. Posisi tangan patung diatur dengan tangan kanan menghadap ke atas dan tangan kiri menghadap ke bawah. Maknanya ialah meminta dan memberkati, sebagai cerminan yang hidup dan yang mati.

Dahulu, nggak sembarang kalangan bisa membuat patung ini. Selain membutuhkan dana yang tidak sedikit, ritual-ritual yang mesti dilakukan pada proses pengerjaannya pun cukup memakan waktu. Jadi kalangan bangsawan sajalah yang mampu menyelenggarakan Rambu Solo’ dan membuat Tau Tau.

Sejarah Tradisi Tau Tau

Sumber : merahputih.com

 

Perlu Sahabat tahu, sebelum masuknya pengaruh agama dari luar, masyarakat Toraja menganut Aluk Tolodo, aliran kepercayaan yang diturunkan leluhur. Aluk Tolodo merupakan kepercayaan animisme asli masyarakat Toraja.

Tau Tau terkait erat dengan apa yang diyakini penganut Aluk Tolodo, bahwa mereka yang meninggal hanya raganya yang mati, sedangkan rohnya tetap hidup di alam lain. Patung yang dibuat dianggap penjelmaan roh orang yang meninggal.

Pada Suku Toraja terdapat empat strata sosial, yaitu golongan bangsawan (Tana Bulaan), golongan bangsawan menengah (Tana Bassi), rakyat biasa (Tana Karurung), dan yang terbawah golongan sahaya (Kua-Kua).

Jenis kayu yang digunakan untuk membuat Tau Tau menunjukkan strata sosial orang yang meninggal. Golongan bangsawan kelas atas akan menggunakan kayu dari pohon nangka, kayu randu digunakan oleh bangsawan kelas menengah, sementara orang biasa hanya menggunakan bambu.  

Proses Pembuatan Tau Tau

sumber : antarafoto.com

 

Nah, Sahabat, seperti telah diulas sekilas tadi, ada ritual-ritual tersendiri dalam proses pengerjaan Tau Tau. Ritual dimulai dengan ritual pemotongan ayam jantan berwarna merah dengan kaki putih di bawah pohon nangka yang akan digunakan sebagai bahan utama patung. Kayu yang telah siap kemudian dipahat menggunakan tanduk kerbau.

Ritual kembali diadakan sebelum menginjak pengerjaan anggota tubuh seperti tangan, kaki, serta alat kelamin. Jika pembuatan anggota tubuh selesai, akan dilakukan pemotongan seekor babi.

Setelah rampung semua, dilaksanakanlah upacara “massa’bu Tau Tau” lengkap dengan sajian kurban babi. Patung lalu dipakaikan pakaian adat, beserta perhiasan dan pusaka, seperti ketika ia hidup. Ini menyiratkan dari strata mana dirinya berasal.

Tradisi yang Terlupakan

Sumber : Sweetmarias.com

 

Seiring perkembangan zaman, proses pembuatan Tau Tau nggak lagi serumit sebelumnya, lho. Banyak ritual-ritual yang ditinggalkan. Perubahan ini membuat Tau Tau nggak lagi bernilai tinggi dan tradisi warisan leluhur pun kian terlupakan.

Di lain sisi, nggak bisa dipungkiri bahwa Tau Tau model baru yang dibuat dengan peralatan canggih memang terlihat lebih menarik. Raut wajah dan berbagai detailnya tampak mirip sekali dengan yang meninggal. Ini bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi generasi muda untuk berkunjung ke Tana Toraja.

Segala sesuatu tentu memiliki kekurangan dan kelebihan, seperti juga perubahan yang terjadi pada Tau Tau.

Yuk agendakan berlibur ke Tana Toraja sebagai bentuk dukungan pada pelestarian budaya asli bangsa kita. Jangan lupa share artikel ini ya, Sahabat!







Keterangan
Lokasi : tana toraja, sulawesi selatan