Merayakan Paskah dengan Arak-Arakan Patung Bunda Maria di Semana Santa, Larantuka

Tahukah Sahabat, bahwa umat Katolik di Flores memiliki tradisi yang telah berlangsung selama lima abad dan masih dilakukan oleh umatnya hingga kini? Tradisi tersebut bernama Semana Santa atau Pekan Suci.

 

Tradisi ini dilakukan selama seminggu menjelang perayaan Paskah atau wafatnya Yesus.Tradisi ini nggak hanya diikuti oleh umat Kristen di Flores saja, tetapi juga peziarah yang datang dari sekitar Nusa Tenggara Timur dan mancanegara. Lantas, bagaimana prosesinya? Yuk, simak ceritanya!

Setiap hari beda prosesi

Semana Santa merupakan tradisi yang diwariskan oleh bangsa Portugis yang menyebarkan agama Katolik sambil berdagang cendana di Kepulauan Nusa Tenggara. Tradisi ini dilaksanakan di Kota Larantuka, sebuah kabupaten yang terletak di Flores Timur. Acaranya dimulai di hari Rabu Abu, Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci, dan Minggu Paskah.

 

Pada Rabu Abu atau Rabu Trewa (terbelenggu) yang diadakan pada 17 April 2019, Larantuka berubah jadi Kota Berkabung. Para jemaat berkumpul dan berdoa di kapel-kapel, sambil mengingat penangkapan hingga penyaliban Yesus oleh para serdadu Romawi.

 

Penangkapan ini diakibatkan oleh pengkhianatan Yudas Iskariot. Ibadah dilakukan di pagi hari dan dipimpin oleh suku-suku di Flores. Pada malam harinya, warga memukul-mukul drum dan menarik seng di jalan sebagai simbol gaduhnya serdadu Romawi saat menangkap dan menyeret Yesus ke Taman Getsemani.

sumber : budinddharmawan.wordpress

 

Keesokan harinya, yaitu Kamis Putih, warga mengadakan ritual tikam turo. Kongregasi (perkumpulan para biarawan dan biarawati) menanam lilin di sepanjang jalan yang akan dijadikan rute untuk prosesi selanjutnya.  Saat prosesi ini dilakukan, nggak boleh ada aktivitas atau bunyi apapun. Larantuka pun menjadi hening.

 

Petugas Conferia (sebuah organisasi dalam gereja) yang telah disumpah melakukan upacara Muda Tuan yaitu membuka peti mati yang berisi patung Tuan Ma (Bunda Maria) di Kapel Tuan Ma. Mereka membuka secara hati-hati peti mati yang telah diberi materai selama satu tahun. Patung tersebut dimandikan dan dipakaikan mantel beludru biru atau kain hitam atau ungu sebagai tanda berkabung.

sumber : indonesiatouristnews.com

 

Puncak ritual rangkaian acara ini terjadi di Jumat Agung. Tuan Menino (Patung Yesus) akan dipindahkan dari Kota Sau ke Kapela Pohon Sirih di Pante Kuce. Ratusan perahu mengarak patung tersebut. Arak-arakan ini mengesankan derita panjang yang dialami oleh Yesus Kristus, mulai penyiksaan, perjalanan memanggul salib, hingga wafat di Bukit Golgota.

 

Patung Bunda Maria juga ikut diarak. Ini menggambarkan Maria yang berduka melihat putranya disiksa. Saat diarak, kedua patung tersebut berhenti di delapan titik perhentian agung, yaitu Misericordia, Tuan Menino, Santo Philipus, Tuan Trewa, Mater Dolorosa, Benteng Daud, Kuce, dan Tuan Ana.

sumber : antarafoto.com

Setelah mencapai titik perhentian terakhir, patung-patung akan diarak kembali menuju Gereja Katedral. Ini menandakan akhir dari prosesi Jumat Agung. Selain itu, ini merupakan simbol akhir penderitaan Yesus dan diantar oleh seluruh umat nasrani ke dalam gereja.

 

Upacara terus berlangsung di malam hari yaitu Lamentasi Jumat Agung dan Sesta Vera. Ribuan warga membawa lilin dan berjalan mengelilinya Larantuka dalam keadaan diam. Di sini, Sahabat akan merasakan kentalnya suasana duka dan berkabung.

Magnet para peziarah dunia

Tradisi yang telah dilakukan sejak 1510 ini telah mengakar kuat pada warga Larantuka. Pemerintah Nusa Tenggara Timur menjadikan tradisi ini sebagai wisata rohani yang diadakan setiap tahunnya. Ribuan peziarah dari Portugal, Brazil, Spanyol, Italia berdatangan ke Kota Reinha Rosari, sebutan lain dari Larantuka.

 

Jika Sahabat tertarik melihat Semana Santa, segera pesan tiket pesawat dari Jakarta atau Bali ke Bandara Wai Oti Maumere di Pulau Flores. Sahabat harus menempuh perjalanan darat selama tiga jam untuk mencapai Larantuka.