Ribuan Warga Berkumpul dan Menyerbu Dalam Tradisi Grebeg Maulid Yogyakarta

Tentunya sebagian masyarakat Yogyakarta sudah cukup familiar dengan Upacara Adat Grebeg yang biasa diselenggarakan dalam setahun hingga 3 kali ini. Upacara Adat Grebeg mulai dikenalkan untuk pertama kalinya oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I, dulunya upacara ini bertujuan agar senantiasa menyebarkan dan melindungi agama Islam.

Sumber : Foto Kontestan

Grebeg sendiri dibedakan menjadi tiga jenis yaitu Grebeg Syawal, Grebeg Maulid dan Grebeg Besar. Ketiga Grebeg ini diselenggarakan di setiap tanggal-tanggal yang berhubungan dengan hari besar Agama Islam. Grebeg Syawal sebagai bentuk ungkapan rasa syukur dari Keraton sesudah melampaui Bulan Puasa, Grebeg Besar diadakan untuk merayakan Idul Adha yang terjadi di setiap bulan Dzulhijah.

Sementara Grebeg Maulid merupakan acara budaya rutin yang dilaksanakan oleh Keraton Kasultanan Yogyakarta setiap Bulan Rabiul Awal pada penanggalan Hijriyah. Sesuai dengan namanya “Maulid” berarti hari lahir, acara dilaksanakan guna memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Seperti yang telah berhasil diabadikan melalui akun @jelajahvisual sebagai salah satu peserta dalam Kompetisi Foto dan Video Lokal Adira Finance. Dalam rangkaian acara Grebeg Maulid Yogyakarta akan diarak tujuh gunungan besar yang di dalamnya terdapat buah-buahan dan hasil panen lainnya. Hal tersebut dimaksudkan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas melimpahnya hasil bumi yang telah diberikan-Nya serta sebagai bentuk sedekah kepada rakyat Yogyakarta.

Makna Grebeg Maulid Yogyakarta

Tujuh gunungan besar yang diarak dalam upacara Grebeg Maulid terdiri dari dari tiga gunungan kakung (laki-laki), satu gunungan putri, satu gunungan gepak (pekat), satu gunungan pawuhan (pembuangan sampah) dan satu gunungan dharat (tanah). Umumnya, perayaan tradisi Grebeg diawali dengan upacara pemberangkatan yakni dari pergelaran Keraton Yogyakarta.

Sesudah acara pembukaan dan doa selesai, iring-iringan pun nantinya akan berjalan keluar dari Keraton, biasanya dimulai sekitar pukul 10.00 WIB. Barisan pertama diawali oleh Barisan Lombok Abang yang selanjutnya diikuti oleh Abdi Dalem dan disusul oleh iring-iringan gunungan besar yang dibawakan beberapa orang.

Ketujuh gunungan besar tersebut dikawal oleh regu prajurit keraton berjumlah 12 bregodo. Gunungan-gunungan itu nantinya akan dibagikan menuju tiga lokasi, yakni Masjid Gede Kauman, Kantor Kepatihan dan Puro Pakualaman. Lautan manusia pun akan terlihat ketika acara Grebeg Maulid dimulai, acara ini selalu menarik ribuan pengunjung yang ingin menyaksikan secara langsung, terlebih lagi di Kawasan Keraton dan Alun-Alun Utara.

Tradisi Grebeg Maulid Selalu Disambut Antusias Oleh Masyarakat Dan Wisatawan

Meskipun teriknya sang surya sangat menyegat, sejumlah masyarakat rela untuk berdesak-desakkan agar bisa menyaksikan acara ini. Sesampainya gunungan-gunungan besar, baik di Masjid Gede Kauman, Kepatihan ataupun Puro Pakualaman, selanjutnya akan dilakukan ritual doa. Hal ini dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur dan kerendahan manusia di hadapan Sang Pencipta.

Sumber : Fakta.News

Setelah ritual berdoa selesai, masyarakat segera menyerbu dan mengambil hasil panen bumi yang terdapat dalam gunungan-gunungan besar tersebut. Dalam hitungan beberapa menit, gunungan yang tadinya berisi sejumlah hasil panen bumi akan habis dan hanya menyisakan rangka bambunya saja.

Sebagian masyarakat masih ada yang percaya, apabila memperoleh sesuatu dalam gunungan-gunungan besar tersebut maka akan mendatangkan keberkahan bagi kehidupan dan rezeki. Karena kepercayaan ini pula, bahkan ada sebagian dari mereka yang mencari sisa-sisa gunungan-gunungan besar yang telah jatuh dan berserakan di tanah.

Tradisi ritual budaya yang digelar setiap tahun ini tentu meningkatkan daya tarik wisata di Yogyakarta, tak hanya wisatawan lokal saja bahkan wisatawan mancanegara pun turut menyaksikan acara ini secara langsung. Inilah yang menjadi keistimewaan dari wisata kota Yogyakarta!

Itulah salah satu tradisi budaya Nusantara yang sangat menarik untuk diketahui Sahabat, karena budaya dan adat di Indonesia sangatlah beragam jenisnya. Jadi, terus  jaga dan lestarikan kebudayaan bangsa Indonesia dengan baik, ya!


Keterangan
Lokasi : bantul, di yogyakarta