Phak Kak Liang, Klenteng Kuno yang Berdiri di Atas Lubang Tambang Wisata

Sahabat, pernah mampir ke Pulau Bangka? Jika pernah, tentu tahu bahwa pulau ini memiliki segudang destinasi wisata bahari yang memesona. Saking banyaknya, banyak orang menjuluki Pulau Bangka dengan nama “Pulau Sejuta Pantai”.

Selain kekayaan wisata baharinya, Pulau Bangka rupanya juga terkenal dengan sebutan lain lho, yaitu “Pulau Seribu Klenteng”. Julukan ini tidak lain berasal dari banyaknya jumlah klenteng di antero Bangka. Maklum saja, sebab sejak dahulu pulau ini memang dikenal sebagai salah satu pusat wilayah pemukiman etnis Melayu Tionghoa.

Klenteng di Atas Lubang Tambang

sumber : detik.net.id

Seperti yang kita tahu, Pulau Bangka dan Belitung di masa lampau menjadi area tambang timah terbesar di Indonesia. Kekayaan timah di perut bumi kedua pulau tersebut bahkan telah dikeruk sejak zaman penjajahan Belanda.

Hal ini menimbulkan banyak dampak negatif bagi lingkungan, salah satunya adalah menimbulkan banyak lubang-lubang bekas galian yang kotor, tercemar, dan berbahaya. Lubang-lubang ini seringkali disebut dengan nama “kolong” di kalangan masyarakat Bangka.

Uniknya, ada sebuah klenteng yang dibangun di bekas lahan galian timah. Klenteng bernama Phak Kak Liang tersebut berada di Desa Kuto Panji, Kecamatan Belinyu, Bangka Utara.

Menjadi Destinasi Wisata Alternatif

Berbeda dengan klenteng lainnya yang dibangun di kawasan ramai, Phak Kak Liang menggunakan area bekas galian tambang sebagai lokasinya. Klenteng yang berada sekitar 40 kilometer dari pusat kota Pangkal Pinang tersebut kini ramai dikunjungi oleh wisatawan domestik dan mancanegara yang singgah di Bangka.

Phak Kak Liang disukai karena memiliki arsitektur khas Negeri Tirai Bambu. Jika mampir di tempat ini, Sahabat juga akan menjumpai aneka macam ikan air tawar berukuran jumbo tepat di bawah lokasi klenteng.

Ya, karena berada di atas galian tambang, bagian bawah klenteng ini dipenuhi oleh genangan air yang cukup dalam. Potensi ini pun dimanfaatkan dengan membudidayakan aneka jenis ikan air tawar yang menarik.

Anda bisa dengan bebas memberi makan ikan-ikan tersebut dengan pakan yang telah disediakan oleh penjaga. Akan tetapi, Anda dilarang keras untuk memancing atau memakan ikan yang ada di area ini.

Berdiri di Tengah Pusat Pemukiman Warga Melayu Tionghoa

Phak Kak Liang tak sekadar menjadi magnet bagi turis. Tempat tersebut hingga saat ini masih aktif digunakan sebagai tempat sembahyang warga Melayu Tionghoa yang menganut agama Kong Hu Cu.

Adapun pembangunan klenteng tersebut di atas lahan bekas galian tambang sejatinya merupakan upaya untuk menyediakan tempat beribadah yang nyaman untuk masyarakat tionghoa di sekitar lokasi tersebut.

Kawasan Belinyu selama ini memang dikenal sebagai salah satu pusat pemukiman warga etnis tionghoa di Bangka. Hebatnya, nggak pernah ada konflik yang terjadi antara masyarakat melayu yang sebagian besar beragama Islam dengan masyarakat tionghoa. Hal ini menandakan bahwa kerukunan beragama di Pulau Bangka sangat aman dan terjaga.

Biaya Masuknya Murah

sumber : jotravelguide.com

Bagi Sahabat yang tertarik untuk datang ke klenteng Phak Kak Liang, harus membayar tiket masuk sebesar Rp10.000 per orang. Objek wisata ini buka pada jam 8 pagi dan tutup pada jam 9 malam.

 

Karena potensi wisatanya yang besar, akses menuju ke sana telah dibenahi oleh Pemerintah Provinsi Bangka Belitung. Jika dulu harus berjibaku dengan tanah merah dan lumpur untuk dapat sampai ke lokasi, kini Sahabat sudah bisa menggunakan kendaraan roda empat atau roda dua di atas jalanan aspal hotmix yang mulus.


Keterangan
Lokasi : bangka, kepulauan bangka belitung