Perang Pandan, Perang Tanpa Dendam yang Hanya Ada di Bali

Jika Sahabat mendengar kata perang mungkin akan terbersit rasa ngeri karena akan menimbulkan pertumpahan darah yang mengerikan. Namun, apa jadinya jika orang-orang yang berperang melakukannya dengan suka cita? Apakah kesan ngeri itu tetap ada?

 

Ya, perang tanpa dendam ini hanya bisa Sahabat saksikan di Desa Tenganan, Bali. Perang ini biasa disebut Perang Pandan atau Mekare-kare. Tangkapan dari lensa @wiliphotography untuk Kompetisi Foto dan Video Sahabat Lokal Adira Finance ini menjadi saksi keseruan tradisi yang sudah terkenal di seantero dunia ini. Bahkan, para turis asing pun banyak yang datang ke desa ini saat tradisi ini sedang berlangsung, Sahabat.

Sejarah Singkat Perang Pandan

Perang Pandan dilakukan secara rutin setiap tahun untuk mengenang kisah pembebasan warga Tenganan dari penindasan Raja Maya Denawa yang kejam. Dewa Indra lah yang menjadi lakon dalam kisah ini. Menurut tradisi, Dewa Indra diutus untuk menyelamatkan warga Tenganan dengan bertarung melawan Raja Maya Denawa yang pada akhirnya dimenangkan oleh Sang Dewa Perang.

 

Perang Pandan atau Mekare-kare ini dilakukan sebagai wujud syukur dan terima kasih warga Tenganan atas pertolongan dari Dewa Indra, Sahabat.

 

Tradisi Perang Pandan sendiri hanya dilaksanakan pada sasih kelima atau bulan kelima menurut penanggalan Hindu Bali atau sekitar bulan Juni pada penanggalan Masehi. Tradisi ini digelar di Bale Banjar atau alun-alun desa dan dihadiri oleh pria-pria yang akan bertanding dan para wanita yang turut meramaikan kegiatan ini.

Senjata dari Pandan dan Tameng Rotan

 

Senjata yang digunakan dalam perang ini adalah pandan berduri. Daun pandan ini dipotong dengan ukuran yang sama kemudian diikat dengan menggunakan tali. Sedangkan tameng yang digunakan adalah tameng berbahan rotan.

 

Perang ini dilakukan satu lawan satu dengan para peserta berusaha saling menggesekkan pandan ke tubuh lawannya. Pertarungan pun dilakukan dalam tempo yang sangat singkat, kurang lebih selama dua menit. Untuk memeriahkan suasana, gamelan pun menjadi pengiring peperangan ini.

 

Meski ini disebut perang, namun perang ini tak pernah menjatuhkan korban jiwa, ya, Sahabat. Bahkan, para peserta yang mengikuti perang ini pun merasa senang, lho!

Apakah Wisatawan Boleh Mengikuti Perang Pandan?

Memang, Perang Pandan ini sebenarnya digelar oleh warga Tenganan untuk warga Tenganan. Dengan kata lain, seluruh warga Desa Tenganan diwajibkan untuk ikut serta dalam tradisi ini. Warga Tenganan melakukan hal ini sebagai bentuk pelayanan kepada Dewa Indra, Sahabat.

 

Lalu, bagaimana jika warga di luar Desa Tenganan ingin ikut serta dalam perang ini? Jawabannya boleh saja, kok. Tak sedikit pula wisatawan domestik maupun mancanegara yang ambil bagian dalam perang ini. Seru, kan?

Perang Pandan Sebagai Penguat Hubungan Masyarakat

Salah satu keunikan dalam Perang Pandan adalah tak adanya rasa dendam atau benci setelah perang ini usai. Hal ini terjadi karena perang ini ditujukan sebagai bentuk penghormatan kepada Dewa Indra sehingga semua warga melakukannya dengan senang hati. Bahkan, hubungan antar warga desa jadi makin erat, lho.

 

Setelah perang ini usai digelar, maka warga akan melakukan magibung atau makan bersama-sama dalam sebuah wadah besar. Nasi, lauk pauk dan sayuran akan dihidangkan di atas daun pisang dan kemudian disantap bersama-sama. Sangat unik, kan?

 

Nah, apakah Sahabat tertarik untuk mengikuti tradisi unik dari Desa Tenganan, Bali, ini? Yuk, kemasi barang-barangmu dan segera kunjungi desa yang eksotis ini, Sahabat!