Parade Ogoh-Ogoh Banyuwangi, Tradisi Lokal Untuk Daya Tarik Pariwisata Internasional

 

Mungkin banyak Sahabat yang mengira bahwa Parade Ogoh-Ogoh ini hanya terdapat di Bali saja, namun ternyata di Banyuwangi juga ada, lho. Parade Ogoh-Ogoh ini merupakan sebuah tradisi dari masyarakat Hindu yang bertujuan untuk menyucikan lingkungan dari roh jahat sehari sebelum Perayaan Hari Raya Suci Nyepi berlangsung.

 

Tradisi lokal ini telah menjadi pemandangan yang biasa dilakukan setiap tahunnya ketika peringatan Hari Raya Nyepi di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Kemeriahan Parade Ogoh-Ogoh ini berhasil diabadikan oleh @mr.omoxboy yang menjadi salah satu peserta dalam Kompetisi Foto dan Video Sahabat Lokal Adira Finance.

 

Nah, kira-kira apa saja hal menarik dalam Parade Ogoh-Ogoh Peringatan Hari Raya Nyepi di Banyuwangi ini?

Mengenal Parade Ogoh-Ogoh

Parade Ogoh-Ogoh merupakan sebuah festival rakyat yang biasa dilakukan masyarakat Hindu sebelum menjelang Hari Raya Nyepi. Pada 2-4 hari sebelum Hari Raya Nyepi, masyarakat Hindu akan menjalani sebuah ritual khas penyucian diri dan melakukan peribadatan di Pura melalui Upacara Melasti.

 

Sementara sehari sebelum Hari Raya Raya Nyepi akan diadakan ritual Buta Yadnya (Buta Yajna). Ritual ini merupakan rangkaian upacara bertujuan untuk menghalau kehadiran Buta Kala. Buta kala adalah manifestasi dari unsur-unsur negatif di dalam kehidupan manusia.

 

Dalam rangkaian ritual Buta Yadnya ini terdapat tradisi Parade Ogoh-Ogoh yang menjadi semarak festival tahunan Peringatan Hari Raya Nyepi sekaligus menjadi daya tarik pariwisata di Kabupaten Banyuwangi. Ritual Buta Yadnya ini terdiri atas dua tahapan yakni ritual Mecaru (pencaruan) dan Ngrupuk (pengerupukan).

 

Mecaru adalah upacara persembahan yang menyajikan beraneka ragam sesajian (caru) untuk Buta Kala. Upacara persembahan ini dilakukan dimulai dari tingkatan keluarga, banjar, kecamatan, kabupaten, kota sampai ke tingkat provinsi. Sedangkan Ngrupuk adalah ritual mengelilingi pemukiman sambil membuat bebunyian dengan disertai penebaran asap dupa atau obor secara beramai-ramai dan penebaran nasi tawur.

 

Ritual Ngrupuk yang dilakukan bersama dengan Parade Ogoh-Ogoh bertujuan supaya buta kala dan segala unsur negatif lainnya menjauh dan tidak lagi mengganggu kehidupan umat manusia. Ogoh-Ogoh berbentuk boneka atau patung yang beraneka rupa dengan simbolisasi segala unsur negatif, sifat buruk dan kejahatan di sekeliling kehidupan manusia.

Pembuatan Ogoh-Ogoh Juga Sebagai Ajang Kreativitas Masyarakat

 

Boneka Ogoh-Ogoh ini dulunya terbuat dari kerangka bambu dengan lapisan kertas. Namun, seiring dengan pergantian waktu “Ogoh-Ogoh” sekarang ini dibuat dari bahan dasar styrofoam dikarenakan mampu menciptakan bentuk tiga dimensi yang lebih halus.

 

Dalam pembuatan Ogoh-Ogoh ini bisa berlangsung sejak berminggu-minggu sebelum Perayaan Hari Raya Nyepi. Waktu pembuatannya pun bervariasi tergantung pada ukuran, jumlah SDM yang mengerjakan, jenis bahan pembuatan dan kerumitan desain dari Ogoh-Ogoh.

 

Biasanya, setiap tingkatan masyarakat dari level Banjar akan membuat Ogoh-Ogoh untuk parade Peringatan Hari Raya Nyepi dari wilayah mereka sendiri. Kalangan remaja suatu daerah biasanya menginginkan supaya Ogoh-Ogoh miliknya lebih unggul dari daerah lain. Oleh karena itu, proses pembuatan Ogoh-Ogoh ini bisa dijadikan sebagai wadah pencurahan kreativitas pemuda setempat selain dari ritual tradisi kebudayaan.

 

Pelaksanaan Ritual Ngrupuk dan Pawai Ogoh-Ogoh

Kegiatan ritual Ngrupuk dan Parade Ogoh-Ogoh berlangsung serentak sehari sebelum Perayaan Hari Raya Nyepi atau Tilem Sasih Kesanga. Persiapan parade ini umumnya dilakukan semenjak sore hari dan parade ini berlangsung sampai menjelang tengah malam.

 

Kegiatan ini tentunya harus mengikuti sejumlah kebijakan dengan mengikuti penertiban rute pawai, pemusatan titik keramaian Parade Ogoh-Ogoh dan melombakan kreativitas desain Ogoh-Ogoh yang telah dirancang oleh masyarakat setempat. Dalam satu Ogoh-Ogoh biasanya memerlukan 10 orang untuk menggotongnya. Di belakang Ogoh-Ogoh terdapat iringan balaganjur yang berjumlah 45 orang.

 

Balaganjur diambil dari kata pasukan atau barisan, sementara Ganjur artinya berjalan. Balaganjur bisa diartikan sebagai pasukan atau barisan yang sedang berjalan sambil membawa gamelan dalam mengiringi Parade Ogoh-Ogoh. Dalam Parade Ogoh-Ogoh ini juga dihadirkan tokoh-tokoh lintas agama guna menyemarakkan tahunan dalam agenda Banyuwangi Festival tersebut.

 

Dengan adanya serangkaian Parade Ogoh-Ogoh ini diharapkan mampu mencegah timbulnya pergesekan antar rombongan arak-arakan dari berbagai wilayah dan bisa menjadi tontonan menarik bagi masyarakat pendatang terutama para wisatawan yang berkunjung di Kabupaten Banyuwangi.



Sudah terbayang kan Sahabat betapa serunya Parade Ogoh-Ogoh di Kabupaten Banyuwangi ini? Yuk, segera rencanakan perjalananmu ke sana , Sahabat!


Keterangan
Lokasi : banyuwangi, jawa timur
Jelajah JAWA TIMUR

06-08-2017 8:49 AM
Bromo Tour.co.id

15-08-2017 5:42 AM
Pantai Taman

03-12-2017 10:33 PM
Gula Kelapa Pacitan

06-08-2017 8:52 AM
Ludruk