Mepeed, Wujud Ungkapan Syukur Umat Hindu Bali kepada Sang Hyang Widhi Wasa

Bali terkenal memiliki kekayaan adat dan budaya yang tak ada habisnya. Hampir di setiap tempat dapat kita jumpai berbagai seni dan budaya, baik itu di dalam kultur tradisional maupun modern. Salah satu yang menarik adalah Mepeed, sebuah upacara di Bali sebagai ungkapan syukur dan terima kasih kepada Sang Hyang Widhi Wasa.

 

Nah, terima kasih kepada sahabat kita, akun @artsan77 yang mengabadikan keindahan di saat-saat prosesi Mepeed tersebut untuk Kompetisi Foto dan Video Sahabat Lokal Adira Finance. Mari kita ulas lebih dalam lagi tentang upacara adat Mepeed di sini, ya!

 

Apa itu Mepeed dalam Tradisi Hindu Bali



Sumber : Flickr

 

Mepeed adalah sebuah upacara dengan peserta para perempuan Bali yang mengusung Gebogan. Gebogan adalah rangkaian buah dan aneka jajanan tradisional yang dihiasi dengan janur setinggi kurang lebih 1 meter. Gebogan ini dibawa dengan cara berjalan kaki dari Banjar menuju ke Pura Kahyangan Desa.

 

Prosesi dimulai dari Pura Dalem Sukawati menuju ke Pura Beji untuk mendak tirta, kemudian beristirahat sejenak untuk melanjutkan perjalanan kembali menuju Pura Dalem Sukawati.

 

Upacara Mepeed ini dapat kita jumpai di Desa Sukawati, Gianyar, Bali. Tradisi ini diadakan setiap satu tahun sekali dan diselenggarakan selama tiga hari. Pesertanya mengenakan pakaian adat Bali lengkap dengan memakai riasan tradisional yang khas, payas agung.




Keunikan Prosesi Mepeed

Sumber : Flickr



Arti dari Mepeed itu sendiri adalah berjalan secara beriringan, oleh karena itu warga yang datang diwajibkan secara berkelompok dan tidak diperbolehkan untuk datang seorang diri. Tradisi ini sudah dilakukan turun temurun sejak zaman nenek moyang mereka dulu. Peserta upacara ini tidak hanya berasal dari perempuan-perempuan dewasa saja, namun anak-anak desa pun ikut serta pula ambil bagian didalamnya.

 

Berjalan beriringan sambil membawa Gebogan yang dijunjung diatas kepala lengkap dengan memakai pakaian tradisional, sungguh pemandangan yang sarat akan makna. Ada satu hal yang perlu diperhatikan dalam membawa Gebogan itu sendiri. Jika sesajen atau Gebogan yang dibawa dalam keadaan kotor ataupun ada yang patah di dalamnya, akan dikembalikan kepada peserta yang membawanya.

 

Hal ini karena sesajen dianggap kurang layak dan tidak ikhlas dalam memberikan persembahan. Bahkan, tidak hanya sampai disitu saja, terdapat pula sanksi adat yang harus dibayarkan berupa denda dengan menyerahkan uang kepeng sebanyak 1.800 buah, loh.




Nilai Luhur Budaya Yang Terkandung didalamnya

Sumber : Flickr

 

Zaman semakin maju dan berkembang, sedikit banyak ikut mempengaruhi perubahan kearifan lokal di sekitar kita. Mepeed ini terbuka untuk siapa saja, asalkan masih mampu dan mau untuk ngayah, bentuk wujud bakti pada Sang Hyang Widhi. Mepeed di Desa Sukawati ini tetap mempertahankan ciri khas kesederhanaannya. Memang terdapat beberapa Mepeed yang sudah dimodifikasi, namun hal tersebut tidak diperkenankan di sini, sebab dapat memudarkan arti dari kesederhanaan itu sendiri.



Bagaimana Sahabat, tertarik untuk menyaksikan secara langsung prosesi Mepeed ini? Tentunya kita harus menyesuaikan jadwalnya terlebih dahulu, sebab acara ini tidak diadakan setiap saat melainkan pada momen tertentu saja. Jadi pastikan terlebih dahulu waktu pelaksanaannya, ya!


Keterangan
Lokasi : badung, bali