Ma'badong, Tarian Penghormatan untuk Si Mati dari Tana Toraja

Sahabat, Indonesia memang memiliki kekayaan budaya yang tak ternilai harganya. Nah, di Sulawesi Selatan, tepatnya di Tana Toraja terdapat sebuah tradisi menarik, Ma’badong namanya. Tradisi unik ini diabadikan oleh @junaidisudirman dalam Kompetisi Foto dan Video Sahabat Lokal Adira Finance. Ma’badong sendiri adalah salah satu prosesi di tengah upacara pemakaman khas Toraja yang dikenal dengan Rambu Solo’. Pasti Sahabat penasaran, kan? Yuk, simak informasi lengkapnya di bawah ini!

Apa itu Ma’Badong dan Rambu Solo’?

Ma'badong sendiri adalah sebuah bentuk tradisional yang hanya boleh ditarikan dalam ritual pemakaman. Tarian ini berupa tarian tanpa musik yang didalamnya berisi syair-syair pujian yang ditujukan kepada orang yang meninggal.

 

Tak sekadar pelantunan sajak mengenai orang yang meninggal, namun lebih dari itu, Ma'badong juga menggambarkan sesuatu yang lebih dalam dari itu. Gambaran mengenai kebudayaan orang Toraja tergambar dalam ritual ini, antara lain nilai spiritual, nilai sosial hingga hubungan antar kelompok dalam masyarakat Toraja.

 

Sedangkan Rambu Solo' adalah sebuah proses pemakaman tradisional masyarakat Tana Toraja yang sangat berbeda dari upacara pemakaman pada umumnya. Dengan melihat upacara ini, Sahabat bisa melihat bahwa masyarakat Tana Toraja sangat menghormati leluhurnya. Upacara Rambu Solo' masih tetap dipertahankan oleh masyarakat asli Tana Toraja, lho.

 

Secara garis besar, upacara Rambu Solo' terdiri dalam dua prosesi besar, yakni prosesi pemakaman dan pertunjukan kesenian. Dua prosesi ini bukan merupakan acara terpisah, namun serangkaian prosesi yang saling melengkapi satu sama lain.

Peninggalan Budaya Sejak Zaman Leluhur

Berbicara mengenai ritual Ma'badong tentu tak bisa dilepaskan dari tradisi kebudayaan masyarakat Tana Toraja, Sahabat. Baik Ma'badong ataupun Rambu Solo' telah dikenal masyarakat Tana Toraja sejak masa lampau. Uniknya, ritual yang awalnya dilakukan masyarakat Toraja yang mayoritas masih memeluk kepercayaan Aluk Todolo ini tetap eksis saat masyarakat Toraja perlahan mulai memeluk agama Kristen Protestan.

 

Namun, ritual ini perlahan mulai tergerus karena kini semakin banyak masyarakat etnis Toraja yang tinggal di perkotaan. Karena membutuhkan lahan yang cukup luas ritual ini cukup sulit untuk dilakukan di daerah perkotaan. Etnis Toraja yang tinggal di pinggiran kota masih bisa melakukan ritual Ma'badong meski tak diikuti dengan upacara Rambu Solo'.

Prosesi Ma’badong di Tana Toraja

sumber : staticflickr

 

Ritual Ma'badong diawali dengan musyawarah yang dilakukan oleh pihak keluarga untuk menentukan jalannya prosesi ini. Dimulai dari menentukan siapa peserta Ma'badong, apakah dari pihak kerabat atau mengundang penyanyi Ma'badong dari kampung-kampung tetangga.

 

Selain itu, keluarga juga harus menentukan kapan hari dilakukannya ritual Ma'badong dan juga pakaian seragam yang akan  dikenakan oleh para peserta.

 

Ritual Ma'badong setidaknya memiliki 20 orang peserta dan didalamnya ada seseorang yang ditunjuk untuk menjadi pemimpin. Menariknya, sebelum ritual ini dilakukan sang pemimpin akan berbincang dengan pihak keluarga untuk mengetahui detail mengenai orang yang meninggal ini. Nantinya, hasil dari pembicaraan ini akan menjadi inti dari nyanyian yang ada pada ritual Ma'badong.

 

Ritual ini dilakukan oleh para peserta dengan membuat lingkaran dan saling mengaitkan jari kelingking kepada peserta di kanan dan kiri. Pemimpin biasanya berdiri di tengah lingkaran tersebut dan memulai ritual dengan mengucapkan kata-kata pembukaan dalam bahasa daerah.

 

Nyanyian dalam ritual ini disebut Kadongbadong. Lirik-liriknya dilafalkan dalam bahasa Toraja dengan menggunakan tata bahasa yang berkaitan dengan kasta si orang yang meninggal dan keluarganya dalam masyarakat.

 

Nah, ritual Ma'badong adalah sebuah kekayaan budaya yang harus dijaga oleh seluruh masyarakat Indonesia. Ayo, jaga kebudayaan ini agar tetap hidup dan dapat disaksikan kemegahannya oleh anak cucu kita, Sahabat!