Kenali Lebih Jauh Jemparingan, Tradisi Panahan

Yogyakarta adalah kota yang kaya akan budaya. Tak heran jika kota ini menjadi favorit tujuan wisatawan dari dalam negeri maupun luar negeri. Namun, tahukah Sahabat, bahwa selain terkenal dengan sendratari Ramayana atau upacara Sekaten, Yogyakarta memiliki tradisi panahan yang diwariskan turun temurun sejak Kerajaan Mataram?

Tradisi panahan tersebut bernama jemparingan. Panahan di tradisi jemparingan berbeda dengan panahan modern. Jika pemanah modern harus memanah sambil berdiri, maka para pemanah jemparingan harus memanah sambil duduk bersila. Busur panah pun ditarik ke arah dada, bukan ke arah mulut dan dagu seperti panahan modern.

Perbedaan lainnya adalah sasaran panahan jemparingan bukan berbentuk lingkaran, melainkan berbentuk bandul putih dengan cat merah di ujung atasnya. Bandul biasanya terbuat dari seikat serabut bambu, dengan panjang 30 sentimeter yang diberi lonceng. Jika pemanah mengenai sasaran, maka lonceng akan berbunyi.

Ada juga bandul yang berupa wong-wongan, yaitu menyerupai manusia dengan kepala, leher, dan badan. Setiap bagian wong-wongan memiliki poin tersendiri. Kepala memiliki nilai 3, leher 2, dan badan 1. Di bawah badan terdapat bol yang jika mata panah mengenai bagian tersebut, maka nilainya akan dikurangi satu.

 

Hasil gambar untuk bandul jemparingan

Sumber: infopublik.co.id

 

Mulanya, jemparingan merupakan tradisi di kalangan keluarga Kerajaan Mataram. Jemparingan bahkan dijadikan perlombaan di kalangan prajurit kerajaan. Seiring perkembangan zaman, kini rakyat mulai melakukannya. Tidak hanya sebagai olahraga, memanah dapat melatih ketajaman, konsentrasi, dan kesabaran.

Jemparingan kaya akan filosofi. Memanah yang semula untuk bertahan diri dan menyerang musuh, kemudian berkembang menjadi pembinaan jiwa. Memanah bukan untuk melawan orang lain, tetapi untuk melawan diri sendiri. Saat menarik busur, sasaran diincar dengan mata hati. Oleh karena itu pemanah harus fokus dengan merasakan dan memusatkan pikiran.

Pada tradisi jemparingan, para pemanah duduk bersila dalam dua baris. Mengapa bersila? Konon para keluarga kerajaan memanah dengan posisi ini karena mereka saling bercengkerama. Bahkan kegiatan memanah juga diselingi dengan makan dan minum di kala itu. Walaupun mereka terlihat memanah dalam posisi yang nyaman, konon memanah dengan posisi duduk lebih susah dari posisi berdiri lho!

Arah memanahnya pun diatur. Mereka duduk menghadap barat dan berada dalam jarak 30 meter dari sasaran. Pemanah diberi kesempatan menembak sebanyak 20 ronde. Setiap rondenya terdapat lima anak panah.

Sahabat harus memakai pakaian khusus jika ingin melakukan tradisi jemparingan. Pemanah harus mengenakan pakaian khas Jawa. Para wanita mengenakan kebaya dan kain batik, sedangkan para pria mengenangkan blangkon, kain batik, dan surjan. Bahkan ada saja yang melengkapi pakaiannya dengan keris.

Sumber: Opariad.com

 

Kini Yogyakarta sedang gencar melestarikan tradisi Jemparingan. Tradisi ini tidak hanya digemari oleh orang tua saja, tetapi anak muda hingga anak-anak. Jika Sahabat berkunjung ke Yogyakarta, sempatkanlah untuk berkunjung ke komunitas jemparingan yang ada di sana. Beberapa komunitas panahan di sana juga menawarkan paket wisata budaya dan mengajarkan memanah ala prajurit Mataram. Selamat mencoba Sahabat!

 


Keterangan
Lokasi : yogyakarta, di yogyakarta