Dangke, Keju Lokal Rasa Eropa yang Menjadi Oleh-Oleh Wajib Enrekang

Saat mendengar kata “keju”, biasanya langsung teringat daerah asalnya yaitu Eropa. Namun tahukah Sahabat bahwa Indonesia memiliki keju lokal yang rasanya nggak kalah enak? Keju tersebut bernama dangke. Dangke ini nggak dibuat di tempat lain selain di Enrekang lho, Sahabat. Oleh karena itu, jika berkunjung ke Enrekang di Sulawesi Selatan, wajib untuk mencicipi makanan ini.

 

Pembuatan keju secara tradisional

Keju ini dibuat oleh masyarakat di Dusun Rane Limbong, Kecamatan Curio Bolang dan Kecamatan Maula, Kabupateng Enrekang. Layaknya keju pada umumnya, dangke memiliki bahan baku utama susu sapi atau kerbau. Tanah perbukitan Enrekang yang subur membuat wilayah ini kaya akan hewan ternak. Namun, karena ternak kerbau mulai berkurang, maka banyak dangke yang menggunakan susu sapi.

 

Dari sisi kesehatan, susu sapi lebih sehat dari susu kerbau karena kandungan lemak susu sapi sebesar 2,7 persen dianggap lebih baik dari kandungan lemak susu kerbau sebesar 3,3 persen. Kandungan betakaroten pada dangke juga cukup tinggi karena berasal dari protein asli yang dihasilkan oleh susu sapi.

 

sumber : mongabay.org

 

Keju ini dimasak melalui secara tradisional. Sahabat nggak perlu meragukan higienitasnya karena hewan yang diperah dimandikan setiap hari. Air susunya juga disimpan di wadah yang bersih. Sebelum diolah, air susu tersebut disaring agar kotorannya nggak masuk. Air susu tersebut dimasak di atas kayu bakar dengan suhu sekitar 70 derajat celcius. Getah pepaya dituangkan ke dalam susu yang sedang dimasak agar susu menjadi menggumpal. Perbandingannya adalah dua tetes getah pada satu liter susu. Enzim pada daun dan buah pepaya dapat memisahkan protein dan air pada susu, sehingga teksturnya menjadi padat.

 

Jika sudah menggumpal, maka dangke masuk kategori “soft cheese”. Keju akan diberi garam dan dicetak ke dalam tempurung kelapa, lalu didinginkan sampai menjadi padat. Satu bongkah keju ini membutuhkan sekitar dua liter susu segar.

 

Selama proses pembuatan, keju nggak dicampur dengan bahan pengawet sehingga aman untuk dikonsumsi oleh Sahabat. Keju dijual dengan cara dibungkus dengan daun pisang.

 

Rasa keju lokal dari Enrekang

sumber : qraved.com

 

Sepintas, keju lokal ini mirip dengan tahu. Warnanya keju lokal ini putih agak kekuningan karena menggunakan nanas. Teksturnya kenyal, rasanya gurih sedikit asam, dan memiliki aroma khas keju.Berbeda dengan keju pada umumnya yang disantap dengan roti, dangke bisa dimakan dengan beras ketan atau dikenal dengan pulu mandotti. Mau diolah kembali juga bisa. Sahabat bisa membuat dangke bakar, dangke goreng, bakso, pengisi sup, bahkan kerupuk.

 

Bondan Winarno, seorang pakar kuliner Indonesia yang gemar pada dangke ini, memberi alternatif pengolahan, yaitu mencampurkan keju ke gulai. Hm, bagaimana menurut Sahabat?

Cara mencari dangke

sumber : bukalapak.com

 

Dangke bisa dicari di sepanjang jalan Makassar Enrekang, Alla, Baraka, atau Anggareja. Sahabat juga bisa menemukan keju ini dengan mudah di pasar tradisional. Keju dangke dihargai sekitar Rp15.000-Rp20.000 untuk ukuran setengah tempurung kelapa. Jika ingin menjadikan keju ini sebagai oleh-oleh, pastikan untuk segera dikonsumsi, karena keju ini bertahan beberapa hari. Jika ingin tahan lama hingga satu bulan, simpan keju di dalam kulkas.

 

Oh ya, Sahabat, mulanya nama keju ini adalah “andu”. Namun, nama “andu” berubah saat para opsir Belanda yang mengucapkan “danke” atau “terima kasih” saat disuguhi keju ini. Dari situlah orang Indonesia mengubah namanya menjadi “dangke”.

 

Dangke banyak peminatnya dan telah diekspor ke Malaysia dan Jepang. Penasaran? Pastikan Sahabat nggak melewatkan kuliner khas Sulawesi Selatan ini ya!


Keterangan
Lokasi : enrekang, sulawesi selatan