Cap Go Meh di Singkawang yang selalu dinanti

Ada puluhan replika naga. Ada ribuan tatung. Ada puluhan ribu lampion. Ada puluhan ribu pengunjung.

Cap Go Meh sudah tak asing bagi masyarakat Indonesia. Beberapa kota yang menyelenggarakan Cap Go Meh antara lain Bogor, Semarang, Pulau Kemaro di Palembang, dan Gorontalo. Namun, yang paling meriah adalah perayaan Cap Go Meh di Singkawang.

Karena pesonanya, maka perayaan Cap Go Meh di Singkawang mampu menarik perhatian warga dunia. Alhasil yang datang tak hanya turis domestik, tapi juga dari manca negara. Tercatat ada wisatawan dari Filipina, Thailand, Hong Kong, Taiwan, dan Australia yang menyaksikan acara ini. Dan jika Cap Go Meh tahun 2018 dihadiri kira-kira 70.000 wisatawan, maka tahun 2019 meningkat menjadi 76.964 orang.

Perayaan Cap Go Meh dimulai dengan ritual para Tatung di Vihara Tri Darma Bumi Raya atau Klenteng Pusat dua hari menjelang hari H. Dalam bahasa Hakka, Tatung adalah orang yang dirasuki roh dewa, leluhur, atau kekuatan supranatural. Jadi, tubuh orang tersebut dijadikan perantara (alat komunikasi) antara roh leluhur atau dewa. Pemanggilan roh dewa menggunakan mantra dan mudra

Tatung dipercaya mampu menolak bala dan mengusir roh-roh jahat di sepanjang jalan yang akan dilewati. Oleh karena itu, mereka wajib berdoa di klenteng untuk mendapat restu sekaligus keselamatan dari para dewa sebelum 'beraksi'.

Saat memanjatkan doa, para Tatung sudah menarik perhatian. Mengapa? Karena saat berdoa, ada yang melakukannya sambil menari diiringi tetabuhan. Namun, tentu saja ada yang berdoa dengan khusyuk, nyaris tanpa suara. Hanya bergumam lirih sembari memejamkan mata.

Hal lain yang menarik perhatian adalah pakaian mencolok yang mereka kenakan. Ada yang memilih baju perang kerajaan Tiongkok kuno. Ada pula Tatung yang memilih baju adat masyarakat Dayak yang dibuat dari kulit kayu, mandau, dan topi dengan hiasan burung rangkok.. Usai berdoa, para Tatung langsung mempertontonkan keahlian mereka.

Hari berikutnya, Tatung menjalani ritual Cuci Jalan. Ritual ini dilakukan di sepanjang jalan yang akan dilalui untuk parade. Setiap Tatung disertai kelompok pengiring sebab ada dua tugas bagi para pengiring. Ada yang bertugas menabuh genderang sepanjang jalan. Ada pula yang bertugas mengusung tandu yang dinaiki Tatung.  Tujuan ritual ini adalah agar menghilangkan hal-hal negatif termasuk mengusir roh jahat sehingga semua acara berjalan lancar.

Saat puncak acara pengunjung bisa menyaksikan 12 replika Naga Bulan melakukan atraksinya. Sosok sang naga berbeda satu dengan yang  lainnya. Alhasil ada naga berwana pink muda, pink tua, perak, emas, biru langit, dan biru tua. Selain itu, ada naga berwarna hijau tua, hijau stabilo, kuning, oranye, merah, dan putih kombinasi emas. Di dalam naga dipasangi lampu sehingga tampil lebih bersinar.

Soal ukuran juga tak sama. Ada yang 9 ruas, 11 ruas, 13 ruas, dan ada yang 15 ruas. Panjang tiap ruas 3,5 meter, sementara panjang kepala naga mencapai 2,5 meter. Jadi, naga terpendek panjangnya 35 meter dan naga terpanjang ukurannya mencapai 55 meter! Untuk memainkan 12 naga diperlukan 500 orang karena 1 tongkat minimal dimainkan pleh 3 orang secara bergantian. 

Sebelum 12 naga menunjukkan aksinya, para naga tersebut menjalani Prosesi Ritual Buka Mata. Ritual ini dilakukan di Vihara Tri Darma Bumi Raya dua hari menjelang puncak acara.  Tujuan ritual ini adalah mengisi roh naga ke dalam replika Naga yang akan dimainkan. Harapannya, selama berkeliling, para Naga dapat mengusir roh-roh jahat dan menolak bala, sehingga kota Singkawang selalu aman dan tenteram.

Pada puncak acara, pengunjung bisa menyaksikan 'tontonan' yang luar biasa dan nyaris tak masuk akal. Bayangkan saja, ada Tatung yang pipinya ditusuk beberapa besi yang tembus dari pipi kiri ke pipi kanan. Sementara tak terlihat ekspresi kesakitan sedikit pun di wajahnya. Belum lagi, ada Tatung yang asyik makan lembaran kaca dengan nikmatnya.  Sungguh diperlukan nyali untuk menontonnya.

Untuk ikut dalam perayaan Cap Go Meh kali ini, tidak semua Tatung bisa berpartisipasi. Panitia melakukan seleksi ketat pada calon Tatung. Hanya Tatung yang berkualitas yang boleh ikut serta. Bahkan tandunya pun distandardisasi.

Puncak Cap Go Meh hanya berlangsung mulai pagi hingga siang hari saja. Keesokan harinya, dilakukan Ritual Bakar Naga. Ritual ini dipercaya sebagai sarana untuk mengirim kembali makhluk khayangan ini ke negerinya alias langit. Jadi, bila awalnya ada Ritual Buka Mata, maka penutupnya ada Ritual Bakar Naga.

Ritual Bakar Naga dimulai dengan meletakkan replika naga di ruang terbuka dengan formasi melingkar. Selanjutnya replika naga tersebut dibakar. Ritual ini dilakukan satu per satu, secara bergiliran.

Menurut kepercayaan warga Tionghoa, abu sisa pembakaran replika naga dipercaya dapat mengusir roh jahat dan membawa keberuntungan. Jadi, abu sisa pembakaran naga akan disimpan di tempat sembahyang dengan harapan bisa mendatangkan kebajikan dan menolak keburukan.

Tatung, Sang Orang Pilihan

Tidak semua orang bisa menjadi Tatung sebab mereka adalah orang-orang pilihan. Jadi, Tatung bukanlah karena kemauan sendiri.  Anak-anak atau perempuan bisa menjadi Tatung. Ini tergantung 'jodoh' atau tidak dengan roh yang akan merasuki. Ada yang terpilih karena garis keturunan, tapi ada yang merupakan reinkarnasi dari masa lalu.

Sebelum melakukan tugas, Tatung wajib berpuasa minimal seminggu. Ada yang berpuasa mutih, ada yang berpantang daging. Selain itu, mereka dilarang berhubungan badan agar jiwa Tatung bersih dan tidak mengalami kecelakaan saat menjadi Tatung. Bila calon Tatung melanggar persyaratan tersebut dijamin dia tak akan bisa menjadi Tatung.

Sejarah perayaan Cap Go Meh

Cap Go Meh berasal dari dialek Hokkian. ‘Cap’ berarti sepuluh, ‘Go’ adalah lima, dan ‘Meh’ berarti malam. Arti Cap Go Meh secara harafiah adalah malam ke-15 setelah Imlek. Cap Go Meh adalah hari terakhir dari rangkaian perayaan Imlek bagi komunitas migran Tionghoa yang tinggal di luar Tiongkok.

Cap Go Meh tak hanya dirayakan di Indonesia, tapi juga di Singapura dan Malaysia Herman Tan, penulis "Perayaan Cap Go Meh" (Tionghoa.info, 27 Oktober 2012) menyebutkan awalnya perayaan ini dilakukan untuk menghormati Dewa Thai Yai, dewa tertinggi dalam tradisi Dinasti Han (206 SM-221 M). Namun, upacara ini hanya dilakukan hanya untuk kalangan istana saja secara tertutup.

Baru pada masa pemerintahan Dinasti Tang (618-907 M), perayaan ini dirayakan oleh masyarakat luas. Di Tiongkok, festival ini dikenal dengan nama Festival Shangyuan atau Festival Yuanxiao.

Karena dilakukan pada malam hari, maka perlu penerangan yang berupa lampu-lampu lampion. Saat itulah masyarakat bisa menyaksikan tarian naga (Liong) dan Barongsai serta pesta kembang api.

Foto: Pudji Saleh


Keterangan
Lokasi : singkawang, kalimantan barat
Jelajah KALIMANTAN BARAT

08-08-2017 6:43 AM
Kwe cap ( kuay cap)

08-08-2017 7:09 AM
Tugu Khatulistiwa

08-08-2017 7:18 AM
Ruko PSP Keboen Sajoek

08-08-2017 6:51 AM
Taman Alun-Alun Kapuas

08-08-2017 7:03 AM
Museum Kalimantan Barat