Kebijakan Manajemen Risiko

Manajemen risiko merupakan salah satu aspek penting bagi Adira Finance dalam memastikan kelangsungan usaha Perusahaan.Tujuan utama diterapkannya praktik manajemen risiko adalah untuk menjaga dan melindungi Perusahaan melalui pengelolaan risiko kerugian yang mungkin timbul dari berbagai aktivitasnya serta menjaga tingkat risiko agar sesuai dengan arahan yang sudah ditetapkan.

Perusahaan terus bekerja untuk membentuk dan mengembangkan budaya risiko yang kuat, penerapan praktik Tata Kelola Perusahaan yang baik, pelestarian nilai-nilai kepatuhan terhadap regulasi, infrastruktur yang memadai, serta proses kerja yang terstruktur dan sehat.

Sejak lama Adira Finance telah mengadopsi “Penerapan Manajemen Risiko secara Konsolidasi bagi Bank yang Melakukan Pengendalian terhadap Perusahaan Anak”, yang mana Adira Finance melaksanakan dalam kapasitasnya sebagai Perusahaan Anak dari PT Bank Danamon Indonesia Tbk (Bank Danamon Indonesia), selaku pemegang saham pengendali Perusahaan, yang mengacu pada Peraturan Bank Indonesia No. 8/6/PBI/2006 tertanggal 30 Januari 2006.

Oleh sebab itu, dalam penerapan manajemen risiko, Adira Finance mengadopsi mekanisme yang bertumpu pada 4 (empat) pilar manajemen risiko sebagaimana yang dirumuskan dalam Peraturan Bank Indonesia No. 5/8/PBI/2003 tentang Penerapan Manajemen Risiko Bagi Bank Umum. Berikut merupakan uraian penerapannya:

Pilar I: Pengawasan Aktif Dewan Komisaris dan Direksi

Dalam melaksanakan fungsi pengawasannya, Dewan Komisaris dan Direksi dibantu oleh komite dan unit dibawahnya. Dewan Komisaris didukung oleh Komite Audit, Komite Manajemen Risiko dan Komite Nominasi dan Remunerasi. Sementara Direksi didukung oleh komite-komite eksekutif di bawahnya yang terdiri dari Komite Manajemen Risiko, Komite Kredit, Komite Sumber Daya Manusia, Komite Aset dan Liabilitas dan Komite Kepatuhan. Selain itu, Direksi pun memiliki tanggung jawab untuk merancang sistem audit internal terhadap proses pelaporan internal yang mencakup mekanisme menyeluruh dari prosedur operasi standar, jalur pelaporan dan struktur akuntabilitas. Dalam menjalankan tanggung jawabnya ini, Direksi dibantu oleh Unit Audit Internal dalam memberikan pertanggungjawaban kepada Komite Audit di bawah Dewan Komisaris.

Adapun gambaran umum struktur pengawasan yang ada di Adira Finance (dimana manajemen risiko merupakan salah satu bagian penting dari pengawasan yang dilakukan didalam Perusahaan) dapat dilihat dari bagan dibawah ini:

Struktur Kebijakan Manajemen Resiko ( Materi menu Kebijakan Manajemen Resiko)

Pengawasan aktif tersebut tercermin sejak perencanaan bisnis tahunan, yang mencakup:

  • Menyetujui dan melakukan evaluasi kebijakan manajemen risiko secara berkala;
  • Melakukan evaluasi dan menyetujui aktivitas yang memerlukan persetujuan dari Dewan Komisaris atau Direksi;
  • Menetapkan kebijakan dan strategi manajemen risiko termasuk penetapan otoritas dalam pemberian batasan serta tinjauan atas kualitas portofolio secara berkala;
  • Terdapatnya Komite Audit dan Komite Manajemen Risiko sebagai organ Dewan Komisaris dalam melaksanakan fungsi pengawasannya; dan
  • Membentuk komite yang terkait dengan penerapan manajemen risiko yaitu Komite Manajemen Risiko.

Lebih lanjut, kerangka konsolidasi manajemen risiko dengan Perusahaan Induk terselenggara mengingat terdapatnya wakil dari Perusahaan Induk dalam jajaran Dewan Komisaris Perusahaan. Kerangka tersebut juga dilaksanakan melalui pemeriksaan kinerja secara berkala oleh Perusahaan Induk terhadap Adira Finance, menyangkut kinerja keuangan, pengawasan sistem informasi akuntansi, serta tingkat kesehatan dan profil risiko dari aset pembiayaan Perusahaan.

Pilar II: Kebijakan dan Penerapan Batasan

Perusahaan menyusun kebijakan-kebijakan terkait manajemen risiko yang diperiksa secara berkala dan disesuaikan dengan keadaan usaha terkini. Kebijakan tersebut diterjemahkan ke dalam Prosedur Operasi Standar dan Memo Internal yang disosialisasikan kepada seluruh karyawan. Perusahaan juga memiliki kebijakan-kebijakan mengenai batasan persetujuan/otorisasi untuk transaksi kredit maupun yang bukan transaksi kredit.

Kerangka konsolidasi manajemen risiko dengan Perusahaan Induk terselenggara mengingat Perusahaan mendapatkan persetujuan dari Perusahaan Induk untuk pengajuan batasan baru maupun adanya proses pemeriksaan tahunan atas program kredit. Kebijakan pencadangan kerugian piutang Perusahaan juga sejalan dengan kebijakan pencadangan pada Perusahaan Induk yang sesuai dan patuh terhadap Peraturan Bank Indonesia (selaku regulator Perusahaan Induk).

Pilar III: Identifikasi, Pengukuran, Pengawasan dan Sistem Informasi Manajemen

Adira Finance memiliki perangkat untuk mengidentifikasi, mengukur dan mengawasi risiko, terutama risiko kredit dan risiko operasional. Sejak semula, Perusahaan telah berkeyakinan bahwa pengendalian risiko merupakan isu yang krusial dalam menjalankan usaha. Oleh karena itu, berbagai mekanisme yang tepat sasaran terus dikembangkan dengan End-to-End approach, yang mana langkah pengendalian risiko mencakup dari proses awal hingga akhir, dari penyeleksian profil konsumen untuk menyaring konsumen yang layak untuk mendapatkan pendanaan hingga penyelesaian kewajiban konsumen, serta mencakup berbagai fungsi utama ataupun pendukung perusahaan. Kini perusahaan telah memiliki instrumen yang komprehensif dalam mengendalikan berbagai risiko, dimana disesuaikan dengan keseriusan dampak yang dapat terjadi terhadap keberlangsungan usaha perusahaan.

Dalam melakukan identifikasi dan pengukuran risiko kredit, Perusahaan memiliki instrumen penilaian kredit dan analisis kredit. Sementara  untuk risiko operasional, selain memiliki Risk Control Self-Assessment (RCSA), Perusahaan juga memiliki mekanisme (1) Pengelolaan Kecurangan (Fraud Management) dimana Perusahaan menyusun strategi preventivedetectioninvestigation & recovery, dan deterrence; serta (2) Pengelolaan Kelangsungan Usaha (Business Continuity Management/BCM) yang daripadanya disusunlah Business Continuity Plan (BCP) yang merupakan kerangka kerja terdokumentasi untuk  penanganan dan pemulihan terhadap aktivitas kritikal dalam suatu unit kerja dengan periode waktu yang telah ditetapkan.

Perusahaan juga memiliki mekanisme pelaporan dan sistem informasi manajemen melalui pertemuan berkala Komite Audit dan Komite Manajemen Risiko Adira Finance. Selain itu, sistem teknologi informasi utama Perusahaan (Ad1Sys) mampu menyediakan data/informasi secara cepat dan akurat kepada pihak Manajemen, Perusahaan Induk atau pihak ketiga yang terkait lainnya.

Lebih lanjut, kerangka konsolidasi manajemen risiko dengan Perusahaan Induk terlaksana melalui penyampaian paparan risiko Perusahaan yang ada secara berkala kepada Komite Manajemen Risiko Perusahaan Induk, termasuk penyampaian laporan berkala terkait aspek kepatuhan, hukum dan lainnya kepada Perusahaan Induk.

Pilar IV: Pengendalian Internal

Untuk memastikan kelemahan ataupun penyimpangan dapat terdeteksi dengan cepat, selain tetap menggunakan instrumen-instrumen sebagaimana disebutkan di atas, Perusahaan memiliki mekanisme pengendalian lainya yang terdiri dari 3 tier, yakni: (1) Atasan/superior; (2) Quality Assurance; dan (3) Unit Audit Internal.

Tier 1 terletak pada atasan langsung, yang mana setiap atasan diharapkan untuk dapat melakukan penyaringan terhadap kelemahan atau penyimpangan yang paling awal. Tier 2 adalah pada Tim Quality Assurance (QA) yang memiliki fungsi untuk melakukan pemeriksaan secara berkala terkait kepatuhan setiap bagian dari Perusahaan terhadap kebijakan yang telah dikeluarkan untuk bagian terkait, terutama jaringan usaha.Tier 3 adalah Unit Audit Internal, yang secara independen melaporkan proses dan hasil pemeriksaannya berdasarkan sampling kepada Dewan Komisaris dan Direktur Utama. Akuntabilitas dari Unit Audit Internal mencakup:

  • Menyediakan penilaian atas kecukupan dan efektifitas dari semua proses yang ada di dalam Perusahaan;
  • Melaporkan masalah-masalah penting yang terkait dengan proses pengendalian aktivitas-aktivitas di dalam Perusahaan termasuk perbaikan yang potensial terhadap proses-proses tersebut; dan
  • Koordinasi dengan fungsi pengendali dan pengawasan lainnya (manajemen risiko, kepatuhan, hukum dan audit eksternal).

Kerangka konsolidasi manajemen risiko dengan Perusahaan Induk dicerminkan dengan dilaksanakannya juga audit reguler/audit Teknologi Informasi/audit terintegrasi kepada unit-unit di Adira Finance oleh Satuan Kerja Audit Internal (SKAI) Perusahaan Induk.