Jenuhkah Perkembangan Mobil Listrik?

Jenuhkah Perkembangan Mobil Listrik?
31 Dec 2017

TOKYO  – Pergeseran trend kendaraan masa depan andalkan tenaga listrik bukanlah isapan jepol belaka. Sebab hingga penghujung tahun 2017 berbondong-bondong manufaktur Eropa, Jepang hingga Amerika melakukan “hijrah” dengan target tahun 2030 seluruh kendaraan yang dibuat sudah andalkan tenaga listrik.

Seluruh line-up yang dibuat para manufaktur akan dijejali perpaduan energi alternatif dan baterai. Mulai dari Hybrid Electric Vehicle (HEV), Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV), Battery Electric Vehicle (BEV), hingga Fuel Cell Electric Vehicle (FCEV).

Pergerakan ini dilatar belakangi semakin tingginya penjualan kendaraan yang tentunya berdampak pada jejak karbon alias pencemaran lingkungan. Pemerintah Eropa juga sudah membuat peraturan keras terhadap efek gas rumah kaca dan harus diturunkan 20% pada tahun 2020 dan akan menjadi 40% pada tahun 2030.

Peralihan sumber tenaga dari mesin konvensional ke mesin listrik sudah dicicipi manis oleh Toyota dengan meraup 11 juta unit semenjak melansir kendaraan hybrid 20 tahun lalu. Target tahun 2025 diharapkan penjualan mobil listrik Toyota setiap tahunnya tembus 5 juta unit.

Saat ini manufaktur berlomba-lomba menghadirkan kendaraan listrik yang memiliki jarak tempuh hingga ratusan kilometer cukup andalkan satu kali pengisian baterai. Salah satunya dari Tesla yang mampu menempuh jarak hingga 539 km, diandaikan berangkat dari  Monas, Jakarta menuju Yogyakarta via tol Cipali.

Seiring dengan trend mobil listrik, baterai memegang peranan penting akan performa dan daya jelajah. Baterai juga perlu adanya jaminan keselamatan bagi seluruh penumpang dan juga daur ulang agar ramah pula terhadap lingkungan.

Baterai konvensional berbahan lithium-ion saat ini sepertinya sudah mencapai titik jenuh untuk dikembangkan. Meski dua-tiga tahun terakhir kemampuan lithium-ion mampu bertambah jarak tempuhnya. Namun bila melihat perkembangan, banyak manufaktur beramai-ramai berkolaborasi menghadirkan baterai yang lebih punya performa akselerasi, ringan dan lebih aman.

Adapun terobosan baru yakni baterai solid-state. Baik Honda, Nissan, Toyota-Panasonic sudah melakukan investasi pengembangan baterai solid-state. Bahkan perusahaan raksasa busi NGK juga melakukan manuver untuk menyiapkan strategi sebagai penyedia baterai solid-state.

Sementara BMW menyeberang ke Amerika untuk meminta perusahaan raksasa Solid Power mengembangkan baterai solid-state. Sedianya akan siap pada tahun 2025 pada kendaraan BMW Group.

Saat ini baterai solid-state memang tengah dalam penelitian lebih jauh untuk performanya. Bahkan para insinyur NGK sendiri sempat mengungkapkan dengan kemasan baterai lebih kecil akan lebih rumit berbanding kemasan baterai yang berukuran lebih besar